kami digiring ke balik bukit dengan sedikit dimaki.
di balik sana ada emas, kata mereka, dan sungguh kami ingin untuk percaya.
sayangnya jalan begitu terjal dan berbatu beberapa dari kami tersungkur tidak mati.
March 20, 2009
March 15, 2009
slumdogs and common knowledges

Bagus banget dah ini pelem. Oke, itu film drama dan sedikit leyeh-leyeh, tapi pesannya banyak. Locally ya itu film mengejar cinta lama dengan cerita masa lalu blah blah blah tapi secara global, biar alurnya maju mundur tapi oke banget soal menggambarkan kemanusiaan sekarang ini. Bayangkan 19 juta orang yang campur aduk dan super timpang tinggal di kota yang (menurut saya) super bobrok. Necropolis. Wuih! Cara bercerita nya juga oke dan realistis. Kita bisa melihat bagaimana euforia jutaan orang menonton seorang slumdog yang menang 20 juta rupee. Ini pandemik namanya, bagaimana paham "american dreams" sudah kuat mengakar dimana kita bisa kuat secara finansial dan instan! Dan jutaan orang India deg-degan melihat Jamal hampir menang 20 juta, padahal ga ada untungnya buat mereka! Dan oh iya jangan lupa ending credit-nya mereka joget tipikal india, hahaha. yaudah ah cape
March 10, 2009
gold
March 9, 2009
Friendly Fire
Halo. Jangan tanya kenapa judul postnya begitu. Long weekend kemana aja? Jalan jalan ke pvj kena banjir jadi macet? Kasian.
Kalo saya, dirumah. Hahaha. Shit.
Jadi hari minggu kemaren saya sekeluarga beres-beres gudang nih, dan oh wow banyak barang-barang oke ternyata euy. Ada satu peti nih yang super old-fashioned dan isinya baju-baju ayah ibu saya yang super wow. Bagus bagus. Terus lagi ada kotak mainan saya men! Amazing! Cuma sedikit sih,tapi memorable sekali isinya. Ada tentara-tentaraan satu armada, lengkap sama tenda, tank, mobil ambulansnya, oke dah. Ada konsol sega juga coy! Plus kasetnya, ada Lion King sama Mortal Kombat. Tapi yang paling unik ada mainan ini nih:

Wuihh! Mainan mesum horror ini cara pakenya ditarik pelatuknya gitu, terus entar tangan tengkoraknya bisa buka-tutup. Mesum.
Lanjut baby, yang lebih tua lagi ada sahabat saya di kotak ini! Yang pertama si Oon (onta maksudnya) dan si lupa lagi namanya.
very cool!
Di laci yang lain, ada buku-buku ayah saya yang kayanya tua banget. Bayangkan, tulisan 'cicak' aja masih berupa 'tjitjak'! Bayangkan!!
Hampir selesai, tapi anda salah kalau berpikir semuanya sudah terungkap, saudara saudara. Ada satu kardus yang isinya satu tumpuk masa lalu kelam saya, yaitu..

Hahaha.
Dadach.
Kalo saya, dirumah. Hahaha. Shit.
Jadi hari minggu kemaren saya sekeluarga beres-beres gudang nih, dan oh wow banyak barang-barang oke ternyata euy. Ada satu peti nih yang super old-fashioned dan isinya baju-baju ayah ibu saya yang super wow. Bagus bagus. Terus lagi ada kotak mainan saya men! Amazing! Cuma sedikit sih,tapi memorable sekali isinya. Ada tentara-tentaraan satu armada, lengkap sama tenda, tank, mobil ambulansnya, oke dah. Ada konsol sega juga coy! Plus kasetnya, ada Lion King sama Mortal Kombat. Tapi yang paling unik ada mainan ini nih:
Wuihh! Mainan mesum horror ini cara pakenya ditarik pelatuknya gitu, terus entar tangan tengkoraknya bisa buka-tutup. Mesum.
Lanjut baby, yang lebih tua lagi ada sahabat saya di kotak ini! Yang pertama si Oon (onta maksudnya) dan si lupa lagi namanya.
Di laci yang lain, ada buku-buku ayah saya yang kayanya tua banget. Bayangkan, tulisan 'cicak' aja masih berupa 'tjitjak'! Bayangkan!!
Hampir selesai, tapi anda salah kalau berpikir semuanya sudah terungkap, saudara saudara. Ada satu kardus yang isinya satu tumpuk masa lalu kelam saya, yaitu..
Hahaha.
Dadach.
March 5, 2009
Global Beauty
Halo. Maaf posting-posting sebelumnya agak absurd.
Disela waktu bikin 2d cicak bau saya tadi saya sempat nonton film Edward Scissorhands. Nah, dibalik surealistis-nya Tim Burton klasik ini, disamping sensor editing Global TV yang super kacau (adegan tangan kena gunting aja disensor! tangan doang! gunting doang!!), saya jadi mikir hal yang lebih klasik lagi.
Edward yang berbeda dan sedikit freak, tapi polos, tersesat dan tidak diterima karena dia tangannya bergunting, gobs.

Well! Intinya, apakah eksterior membutakan? Apakah inti hati tidak bisa jadi patokan? Memangnya pernah ada buku panduan memilih teman? Apa ada filsafat yang dibuat untuk membedakan? Edward tidak sedih sendiri.
Disela waktu bikin 2d cicak bau saya tadi saya sempat nonton film Edward Scissorhands. Nah, dibalik surealistis-nya Tim Burton klasik ini, disamping sensor editing Global TV yang super kacau (adegan tangan kena gunting aja disensor! tangan doang! gunting doang!!), saya jadi mikir hal yang lebih klasik lagi.
Edward yang berbeda dan sedikit freak, tapi polos, tersesat dan tidak diterima karena dia tangannya bergunting, gobs.

Well! Intinya, apakah eksterior membutakan? Apakah inti hati tidak bisa jadi patokan? Memangnya pernah ada buku panduan memilih teman? Apa ada filsafat yang dibuat untuk membedakan? Edward tidak sedih sendiri.
March 1, 2009
pesan
halo. kemana aja? ah, padahal nggak ada kerjaan. ya, ngga ngabarin sih. si item itu maunya saya ngga ikut. oh, kamu yang terbawa arus itu, selamat ya. kamu dulu tidak sekelabu ini. masih cantik kok. iya memang cover-nya agak aneh. oh saya senang sekali lihat kalian berdua! bukan, bukan. apa ya. kamu ngga ngerti sih, dia itu babi. kamu temenan ama babi! hati hati ya, jaga badan kamu. oke, bye.
February 15, 2009
kebelet posting
Ah, memang hanya oatmeal ini yang paling enak.
Bukan oatmeal biasa. Kalian boleh mengatainya havermut pahit atau bubur gandum hambar atau apa, terserah. Ini oatmeal-ku. Kudapan soreku. Well, bukan hanya aku. Ini oatmeal aku dan Fazza. Setidaknya dulu.
Tidak, Fazza tidak meninggalkan aku dan oatmeal kami berdua. Mungkin belum, aku tidak tahu. Tapi Fazza selalu ada, bahkan oatmeal soreku selalu kusantap disampingnya. Sesekali kusuapi dia walaupun seringkali dimuntahkan kembali. Fazza tetap tinggal, ia hanya tertidur sesaat. Kuharap.
Betapa Fazza masih sesegar dirinya ketika pertama kali aku tertarik padanya. Dengan manis ia mendatangiku yang duduk sendiri di cafe sore itu.
“Oatmeal?”
Aku melongo. Ia tersenyum.
Pahit, jawabku waktu itu. Hasil terbaik yang bisa kusiapkan dari serangan tak terduga macam itu.
“Itu pikiran awam. Saya buat sendiri..”
Setelah itu magis rasanya. Kami punya banyak kesamaan daan banyak hal untuk dibicarakan (dan aku berani sumpah oatmeal-nya gurih sekali). Kami berjanji untuk bertemu lagi, dan dari sanalah aku mulai rutin menanti; Sabtu sore dengan Fazza, tak penting lagi dimana tempatnya, yang krusial bagiku hanyalah ia dan oatmealnya.
Kami mulai saling terbuka, tidak butuh banyak waktu untuk tahu ia adalah seorang pemanjat tebing yang handal, walaupun sedang vakum karena cideranya. Bahasa Portugis-nya sangat fasih, karena ia sempat tinggal beberapa tahun di Brazil, yang dengan sangat kebetulan adalah tempat impianku untuk bekerja sebagai atase kedutaan, yang saat ini ilmunya masih sedang kupelajari. Ia juga jago memasak, satu keterampilan yang turun temurun wajib untuk dikuasai dalam keluargaku. Ya, tidak lama juga untuk kami saling menyadari, kami saling suka.
Air panas, susu, sedikit taburan parmesan, almond, irisan tipis pisang, dan oatmeal instan. Dipanaskan di microwave. Selesai. Aku buatkan Fazza juga, dengan keju ekstra favoritnya. Oke, sore yang cukup indah untuk menghabiskan kudapan bersamanya.
“Hai. Aku buatkan kamu, nih. Sudah lumayan lama, kan, Fay. Buatanku sudah lebih enak darimu.”
Aku dekatkan mangkuk oatmeal-ku pada hidungnya.
“Aku buka jendelanya, ya, Fay. Jahat aku kalau bikin kamu melewatkan senja semanis ini. Oh ya, aku tadi download lagu All I Am yang kamu minta dulu. Sudah ada di iPod-ku.” Aku tersenyum dan mulai memutar musiknya. “For old times’ sake.”
Kulahap oatmealku.
Awalnya aku tidak yakin kalau Fazza baik buatku. Aku tidak selalu bisa melanggar norma; beda dengan dia yang meninggalkan jabatan Head Researcher di universitas ternama hanya demi memanjat tebing atau dia yang – bayangkan – meninggalkan Brazil demi melihat pabrik gandum yang memproduksi oatmeal favoritnya. Hasilnya adalah debat panjang di suatu pagi dingin di villa-nya di daerah Lembang, Bandung.
“Aku bukannya melanggar norma, Pril.”
“Fazza, apapun namanya. Itu bukan sesuatu yang bisa sembarang orang dengan mudah ikuti.”
“Kamu bukan sembarang orang.”
“Tapi toh, aku tidak yakin bisa.”
“Aku yakin April dan Fazza bisa tinggal bersama.”
“Itu dia, Fay, tetap saja aku banyak takutnya. Aku takut orang memandang kita gimana, aku takut orangtuaku tidak setuju, aku takut mengganggumu..aku takut mengganggu kuliahku dan...”
Kalian harus lihat bagaimana caranya ia tersenyum, membuyarkan rangkaian pertahanan kata-kataku, dan menjawabnya hanya dengan satu kecupan hangat. Aku memeluknya erat diatas kap mobilnya.
Hancurlah raguku, Fazza telah memenangkan semua bentengku, dan aku senang karenanya.
Kami turun ke Bandung dan membeli oatmeal dalam jumlah besar untuk disimpan di rumah kami berdua sore harinya.
Sejak tinggal bersama Fazza, semua orang dapat melihat betapa cepatnya aku berubah; lama-kelamaan aku makin mendekati peranku sebagai kekasih Fazza. Dan aku menyukainya. Ia tidak protes, malah cenderung senang kalau aku melewatkan mandi dua hari, aku mulai mencintai memanjat tebing, kami mulai bereksperimen gila di dapur; omelet oatmeal, oatmeal kukus, oatmeal krim jamur dan 27 modifikasi lainnya, yang foto hasilnya kami pajang di sekeliling ruang makan; walaupun tidak semuanya tampak seperti makanan. Aku telah melakukan berbagai hal gila diluar apa yang bisa aku bayangkan bersama Fazza, dan aku menikmati setiap menitnya.
“Lho? Ada kamu, Pril. Sudah lama?”
Reya, sepupu Fazza. Semoga dia tidak melihat tumpahan bubur gandum dibalik karpet; aku hampir menumpahkan semuanya saking kagetnya aku karena kedatangannya.
“Baru, kok, Rey. Tadi aku numpang masak oatmeal, ya, buat Fazza juga, kok.”
Reya hanya senyum sambil lalu dan masuk melihat keadaan Fazza.
“Sudah aku ganti bajunya, Rey.”
Ya, Reya, yang walaupun bukan termasuk sepupu dekat Fazza, cukup dekat dengannya. Bahkan Reya telah mengenalnya jauh lebih lama dariku. Ia yang paling mengerti Fazza yang jarang terbuka pada sembarang orang; ia yang membuat batasan-batasan keras bila Fazza mulai bertingkah keluar jalur. Itulah Reya.
Mentari kulihat semakin turun sembari memerhatikan Fazza.
“Rey, aku nggak bisa lama. Ada yoga. Kamu nggak ada jadwal lagi, ‘kan?”
“Oh, ya, ini Jumat, ya. Yaa, nggak apa-apa Pril, ‘kan memang giliran aku tinggal.”
“Maaf, ya, Rey, nanti aku bawakan jus leci lagi, deh.” Kulebarkan senyumku. “Bye.”
Aku keluar dan berjalan menuju mobil, setengah melirik ke jendela kamar Fazza dan samar kulihat Reya mengusap rambut Fazza.
Dalam perjalanan, kuputar berulang-ulang playlist aku dan Fazza dalam mobil; lagu kami berdua tidak punya aturan, yang penting kami suka. Kebanyakan lagu lama. Sambil menatap akhir senja dibalik siluet kendaraan yang bertumpuk di jalanan, diantara alunan Groovy Kind of Love-nya Phil Collins, aku kembali menerawang.
Oatmeal.
Pernah kutanyakan begini pada Fazza: “Kenapa harus oatmeal, Fay?”
Awalnya kupikir pertanyaanku mendadak berubah retoris.
“Gurih, sehat, apa yang salah? ‘Kan baik juga buat jantung.”
Aku tersenyum padanya, yang kira-kira berarti, ting-tong, jawaban anda salah.
Fazza balik tersenyum.
“I simply just need someone to eat those with.”
Ting-tong. Jawaban diterima. Tidak beralasan dan sangat tidak dewasa, tapi aku terima.
wow absurd! ini draft tugas cerpen saya waktu SMA. baru ketemu file-nya tadi. dan akhirnya ga pernah beres. cheap.
Bukan oatmeal biasa. Kalian boleh mengatainya havermut pahit atau bubur gandum hambar atau apa, terserah. Ini oatmeal-ku. Kudapan soreku. Well, bukan hanya aku. Ini oatmeal aku dan Fazza. Setidaknya dulu.
Tidak, Fazza tidak meninggalkan aku dan oatmeal kami berdua. Mungkin belum, aku tidak tahu. Tapi Fazza selalu ada, bahkan oatmeal soreku selalu kusantap disampingnya. Sesekali kusuapi dia walaupun seringkali dimuntahkan kembali. Fazza tetap tinggal, ia hanya tertidur sesaat. Kuharap.
Betapa Fazza masih sesegar dirinya ketika pertama kali aku tertarik padanya. Dengan manis ia mendatangiku yang duduk sendiri di cafe sore itu.
“Oatmeal?”
Aku melongo. Ia tersenyum.
Pahit, jawabku waktu itu. Hasil terbaik yang bisa kusiapkan dari serangan tak terduga macam itu.
“Itu pikiran awam. Saya buat sendiri..”
Setelah itu magis rasanya. Kami punya banyak kesamaan daan banyak hal untuk dibicarakan (dan aku berani sumpah oatmeal-nya gurih sekali). Kami berjanji untuk bertemu lagi, dan dari sanalah aku mulai rutin menanti; Sabtu sore dengan Fazza, tak penting lagi dimana tempatnya, yang krusial bagiku hanyalah ia dan oatmealnya.
Kami mulai saling terbuka, tidak butuh banyak waktu untuk tahu ia adalah seorang pemanjat tebing yang handal, walaupun sedang vakum karena cideranya. Bahasa Portugis-nya sangat fasih, karena ia sempat tinggal beberapa tahun di Brazil, yang dengan sangat kebetulan adalah tempat impianku untuk bekerja sebagai atase kedutaan, yang saat ini ilmunya masih sedang kupelajari. Ia juga jago memasak, satu keterampilan yang turun temurun wajib untuk dikuasai dalam keluargaku. Ya, tidak lama juga untuk kami saling menyadari, kami saling suka.
Air panas, susu, sedikit taburan parmesan, almond, irisan tipis pisang, dan oatmeal instan. Dipanaskan di microwave. Selesai. Aku buatkan Fazza juga, dengan keju ekstra favoritnya. Oke, sore yang cukup indah untuk menghabiskan kudapan bersamanya.
“Hai. Aku buatkan kamu, nih. Sudah lumayan lama, kan, Fay. Buatanku sudah lebih enak darimu.”
Aku dekatkan mangkuk oatmeal-ku pada hidungnya.
“Aku buka jendelanya, ya, Fay. Jahat aku kalau bikin kamu melewatkan senja semanis ini. Oh ya, aku tadi download lagu All I Am yang kamu minta dulu. Sudah ada di iPod-ku.” Aku tersenyum dan mulai memutar musiknya. “For old times’ sake.”
Kulahap oatmealku.
Awalnya aku tidak yakin kalau Fazza baik buatku. Aku tidak selalu bisa melanggar norma; beda dengan dia yang meninggalkan jabatan Head Researcher di universitas ternama hanya demi memanjat tebing atau dia yang – bayangkan – meninggalkan Brazil demi melihat pabrik gandum yang memproduksi oatmeal favoritnya. Hasilnya adalah debat panjang di suatu pagi dingin di villa-nya di daerah Lembang, Bandung.
“Aku bukannya melanggar norma, Pril.”
“Fazza, apapun namanya. Itu bukan sesuatu yang bisa sembarang orang dengan mudah ikuti.”
“Kamu bukan sembarang orang.”
“Tapi toh, aku tidak yakin bisa.”
“Aku yakin April dan Fazza bisa tinggal bersama.”
“Itu dia, Fay, tetap saja aku banyak takutnya. Aku takut orang memandang kita gimana, aku takut orangtuaku tidak setuju, aku takut mengganggumu..aku takut mengganggu kuliahku dan...”
Kalian harus lihat bagaimana caranya ia tersenyum, membuyarkan rangkaian pertahanan kata-kataku, dan menjawabnya hanya dengan satu kecupan hangat. Aku memeluknya erat diatas kap mobilnya.
Hancurlah raguku, Fazza telah memenangkan semua bentengku, dan aku senang karenanya.
Kami turun ke Bandung dan membeli oatmeal dalam jumlah besar untuk disimpan di rumah kami berdua sore harinya.
Sejak tinggal bersama Fazza, semua orang dapat melihat betapa cepatnya aku berubah; lama-kelamaan aku makin mendekati peranku sebagai kekasih Fazza. Dan aku menyukainya. Ia tidak protes, malah cenderung senang kalau aku melewatkan mandi dua hari, aku mulai mencintai memanjat tebing, kami mulai bereksperimen gila di dapur; omelet oatmeal, oatmeal kukus, oatmeal krim jamur dan 27 modifikasi lainnya, yang foto hasilnya kami pajang di sekeliling ruang makan; walaupun tidak semuanya tampak seperti makanan. Aku telah melakukan berbagai hal gila diluar apa yang bisa aku bayangkan bersama Fazza, dan aku menikmati setiap menitnya.
“Lho? Ada kamu, Pril. Sudah lama?”
Reya, sepupu Fazza. Semoga dia tidak melihat tumpahan bubur gandum dibalik karpet; aku hampir menumpahkan semuanya saking kagetnya aku karena kedatangannya.
“Baru, kok, Rey. Tadi aku numpang masak oatmeal, ya, buat Fazza juga, kok.”
Reya hanya senyum sambil lalu dan masuk melihat keadaan Fazza.
“Sudah aku ganti bajunya, Rey.”
Ya, Reya, yang walaupun bukan termasuk sepupu dekat Fazza, cukup dekat dengannya. Bahkan Reya telah mengenalnya jauh lebih lama dariku. Ia yang paling mengerti Fazza yang jarang terbuka pada sembarang orang; ia yang membuat batasan-batasan keras bila Fazza mulai bertingkah keluar jalur. Itulah Reya.
Mentari kulihat semakin turun sembari memerhatikan Fazza.
“Rey, aku nggak bisa lama. Ada yoga. Kamu nggak ada jadwal lagi, ‘kan?”
“Oh, ya, ini Jumat, ya. Yaa, nggak apa-apa Pril, ‘kan memang giliran aku tinggal.”
“Maaf, ya, Rey, nanti aku bawakan jus leci lagi, deh.” Kulebarkan senyumku. “Bye.”
Aku keluar dan berjalan menuju mobil, setengah melirik ke jendela kamar Fazza dan samar kulihat Reya mengusap rambut Fazza.
Dalam perjalanan, kuputar berulang-ulang playlist aku dan Fazza dalam mobil; lagu kami berdua tidak punya aturan, yang penting kami suka. Kebanyakan lagu lama. Sambil menatap akhir senja dibalik siluet kendaraan yang bertumpuk di jalanan, diantara alunan Groovy Kind of Love-nya Phil Collins, aku kembali menerawang.
Oatmeal.
Pernah kutanyakan begini pada Fazza: “Kenapa harus oatmeal, Fay?”
Awalnya kupikir pertanyaanku mendadak berubah retoris.
“Gurih, sehat, apa yang salah? ‘Kan baik juga buat jantung.”
Aku tersenyum padanya, yang kira-kira berarti, ting-tong, jawaban anda salah.
Fazza balik tersenyum.
“I simply just need someone to eat those with.”
Ting-tong. Jawaban diterima. Tidak beralasan dan sangat tidak dewasa, tapi aku terima.
wow absurd! ini draft tugas cerpen saya waktu SMA. baru ketemu file-nya tadi. dan akhirnya ga pernah beres. cheap.
February 8, 2009
terawang pagi
i remember, woken up as a 4 years old boy in a blue sunday morning, by some old Phil Collins tunes my father played throughout the house
i remember, woke up as a 7 years old boy earlier than usual, turned on the tv finding that was a very silent, soothing morning
i remember, woke up as a 13 years old boy late for school, prepared everything in such a hurry but still couldn't stand to stop and enjoyed the sunny morning on my way
i remember, woke up as a 17 years old guy, if it's an appropriate predicate, on an uncomfortable-open platform in my university in a cold morning covered with glues all over my hands, after working all night on my faculty's property for graduation
i thought, i remember it all clearly
Subscribe to:
Posts (Atom)