April 3, 2015

It is already too much to ask for a friend.

March 26, 2014

The Storm:
the storm resides in the very back of my head for years now. The only fact to grasp for hope is that this too shall pass; the words swirl back and forth, like a chant losing its magic, without anymore meaning. Yet it shall pass. It should, because the law simply forbids any endlessness to exist. 
Then there sadly came whispers, asking, "what if this was the last storm we may weather?", "what if, what if storms, the grandest curse and blessing of men, have always bound to recede?" What would we have left?

October 15, 2013

I don't feel alright
In spite of these comforting sounds you make
I don't feel alright
Because you make promises that you break

Into your house
Why don't we share our solitude?
Nothing is pure anymore but solitude

It's hard to make sense
Feels as if I'm sensing you through a lens
If someone else comes
I'll just sit here listening to the drums

Previously I never called it solitude

And probably you know
All the dirty shows I've put on
Blunted and exhausted like anyone
Honestly I tried to avoid it
Honestly
Back when we were kids
We would always know when to stop
And now all the good kids are messing up
Nobody has gained or accomplished anything

October 13, 2013

I never got the chance to dance with you, but I guess we never would however. Petuahmu belum lagi rampung. Pun, bagaimanapun, itu juga tidak pernah akan.
Kita berdua terlalu tahu malu.

September 23, 2013




Why are you thinking again, little brother
When you know there's a story for every wrong
But I won't be around in the morning
Can only pray there's no harm in me moving on
To the trials in your unknown


And if you could just walk home by

With signs just flying around
And if this storm was just a motion
Of your kid just trying out
If we could only lose these minds


Why are you drinking again little brother

When your remnant's the hard part of loving you
You say the creeks and the falls want to drown you
But there are deeper wells where we're going to
There's no drown in this unknown

And when your memory is lost on the hillside

And the wind takes you further and forward now
Your world is a kite in the weather
Gently tight to your end that is pointed out
There's a sky in this unknown



September 15, 2013

At Night

Rancabuaya, 02:12 AM
I was compromising when I affirmed that the rest of Milky Way seemed only like a towering constellations of clouds faraway, unmoving. It was, of course, an exhausting day for everyone (except for me that wasn't driving at all), so by the time the burning fire and the faintly-lit oil lamps' stable murmurs started to amplify the grand starry mirage, we were already asleep in our packed little tents placed right next to the juxtaposed, lined up almost like displays, motorcycles. The waves beat itself ashore in a perpetual noise. No chatters or laughs could be heard. Not even from the only camper there other than usthe drunk Germans (I think they were Germans) tent across.
I slowly closed my tent's zip from outside, tiptoed over some of the members courageously sleeping out in the open, leaned over the only car included for the trip, a Volkswagen Beetle, and gazed upward.

Sunset Road, Kuta, 01:40 AM
The wide bypass stretching all the way from Kerobokan to the airport (and more) were all seemed lonely with dim light from the buildings sideways; some badly crammed next to each other in many corners, some isolating themselves to an extensive blocks of wild grasses. The surface of the sidewalks were uneven in unfinished pavements. The veins of the Land of Gods had started to secretly dream of lofty cottages and estates, after all. Our two rented motorcycles stopped aside under lines of humming palms wavered peacefully over the street lamps. We were waiting in silence for something I couldn't remember. Had I just misheard scraping sounds of ocean waves then?

Bandung, 03:08 AM
How could I content being burdened by the flows of hymn-like songs, lengthy in their ordinary, sounded so otherworldly human that I can't help but thanking my thin being, I can't really explain (neither can I give you examples of the songs I'm referring to). Anyway, that night the open skies couldn't be more pleasant with shifting haze of skeletal clouds here and there, yet tender drizzles sprinkled my face as the red light signals reflected imperfectly in wet streets blinked.

April 22, 2013

It was right when the tilted mountainous roads shifted my perception of gravity, and all the far-gleaming city lights in front of us started to float up, drifting higher and higher above us.

April 8, 2013



Habis sudah. 
Baru malam-malam ini aku rindu teriakan, lelucon, bentakan, sapaan, lambaian tangan, tawa, pelototan, tepukan bahu, ejekan, lengosan mereka semua, yang seperti menguap selepas hujan. Sekarang cuma bisa mencerap sisa rasa dari perayaan minggu kemarin. Dari sana rekaman makin memutar mundur tanpa bisa berhenti. Ternyata aku baru sadar: sepanjang empat setengah tahun ke belakang adalah satu perayaan utuh. Perayaan tanpa habis yang manis dan pahitnya sama-sama berharga; yang sedihnya semua rasa baru bisa kuingat ketika ramainya sendiri telah selesai. Ketika hening datang saat pintu rumah kututup. Ketika pulang.



Terkadang aku lupa ada; kadang lain aku ada di mana-mana. Aku selalu bahagia jadi tali cadangan di pojok ruangan. Saya, yang pusing sendiri memikirkan bagaimana kamu yang tidak bisa tertawa bersama elo yang pernah membuat benci maneh yang menjelekkan mereka, bisa saya rangkul bahunya. Aing yang rasanya selalu berjalan di belakang, yang tidak berani memandang mata lawan bicaranya kalau melucu. Gua yang banyak dengki. 
Tapi di hari lain gedung ini mengingatkan: ini bukan tentang aku. Jauh sepele, ini cuma tentang bonggol pohon yang mirip singkong. Cuma tentang pameran kecil-kecilan karya seniman anak bawang. Cuma siraman air terasi ke sekujur badan yang tidak hilang dua minggu. Anak tangga di kantin sempit yang lebih sering ditindih pantat daripada kaki. Kursi panjang yang selalu pindah posisi. Studio bau resin yang sering kebanjiran. Ruang asam yang penuh bercak mirip kotoran cicak. Tumpukan keramik pecah. Lukisan jelek di sepanjang jalan menuju jembatan. Sayup-sayup teriakan kebobolan dan stik PS duapuluhribuan yang dibanting (yang aku tidak tahu apa menariknya). Deretan loker-loker kecil yang berujung di mushola bau kaki. Bendera hitam lusuh yang masih saja dikibar-kibarkan, bikin baru lagi kek. Rapat-rapat dibawah lampu temaram yang hasilnya hanya lapar Dwilingga atau Gisin. Derap barisan sepatu bot kulit sintetis dari Pasar Tegalega yang bikin jantung junior berhenti. Air terjun yang bisa jatuh kapan saja dari atas terpal biru. Baligo Pasar Senin buatan sendiri. Lapangan rugby yang haram diinjak rumputnya. Anjing kampung yang jumlah pacarnya menyamai jumlah bayinya. Malam kelulusan yang malah dibintangi penyanyi dangdut kampung. Lambaian pada punggung-punggung yang menjauh dari vista di depan Galeri..... 
Sangat banyak yang gedung ini ceritakan, tapi semuanya hanya remeh yang mudah dilupa.

Tapi entah kenapa: ketika jubah toga sibuk berfoto di sasana kemarin, ketika riuh sorak sorai di luar pintu ributnya seperti hujan, ketika perayaanku mencapai ujung yang telah lama diantisipasi, ketika pintu dibuka dan cahaya masuk; wajah-wajah di depanku semuanya kabur dan tidak ada yang lebih aku rindukan daripada hal-hal sepele itu. Malah itu yang hangatnya tidak ingin lepas. Mereka yang kukenal sepanjang seperlima umurku semuanya hadir untuk menjabat tanganku, menyodorkan buket bunga di lenganku, memelukku, tapi yang benar-benar ingin kupeluk malah waktu-waktu remeh yang terlupakan, ketika jabat tangan masih hanya berarti sampai besok daripada sampai nanti.
Pemandangan di depan pintu sasana berhenti bergerak. Aku rindu rumah lama kami.
Tidak pernah aku sepatah hati sekarang. 



Padahal, pulang hanyalah bersinggah, pulang menjadi berarti jika kita tahu akan pergi suatu waktu nanti. Mungkin begitu pula dengan persinggahan di lapangan abu-abu ini: barulah kita rindu pulang dan bertengger, saat kita benar-benar akan terbang dari helipad kotor itu.



April 7, 2013

festival

masih baru jejak kaki

di tanah-kerikil-pasir abu dengan tumpukan rumput kering dan kotoran kucing itu,
begitu pula lecet tumit dari sepatu lamanya

pagi ini tidak berkabut, namun seruak sinar dari langit menipiskan pandangan

dan seperti koran yang setiap hari datang dan dibuang: haknya atas waktu terus berganti, detik demi detik, 
dengan kemenangan tipis yang semakin tidak terlihat bedanya

telinganya pekak, justru karena hening yang seperti tak mau habis;

dengan kaus dan celana yang bukan miliknya, ia hanya punya napas untuk dipelihara
naik dan turun, naik dan turun.

"Melihatlah ke bawah, ke jengkal selanjutnya yang akan engkau pijak. Selanjutnya lagi, dan selanjutnya lagi. Dan selanjutnya terus hingga bulir keringat yang terjun membuat bola matamu letih. Hirup saripati pagi ini dalam-dalam sampai kau meledakkan syukur yang tak tertahan. Tanggalkan beban yang sudah seharusnya kau tinggalkan. Angin akan bergantian menyentuh wajahmu, seakan kau adalah tembok suci yang dielu-elukan pecintamu, seakan terpaan tipis ini ingin menarikmu untuk terus tidak mati. 


"Lamat-lamat napasmu akan kabur dari tubuh, seluruh sendimu akan bergemeretak menangis pedih, urat ototmu terkejang panas. Berterimakasihlah akan itu; sadarlah bahwa semua sakit adalah milikmu. Estafetkan lelahmu pada engkau yang lain. Berlarilah! Berlarilah untuk perih ini sampai kau menjentikkan pikiran bahwa menjadi hidup lebih menyakitkan daripada sebaliknya. Sadarlah beban terbesarmu: kau memanggul dirimu sendiri. Sadar itulah yang membebaskanmu.

"Melompatlah sesekali saat kau tahu tanah tidak lagi penting dipijak. Berharaplah kau Ikarus yang tahu kau bakal jatuh, runtuh dengan tulang segala remuk ke atas tanah yang kau rindu."

ia tersungkur, tersusul jauh oleh napas yang sedari tadi mengejar

terbujur, ia bisikkan sang Joker: "sedetik lalu aku mengecap Ledakan Kehidupan."
Bagiku, komunikasi adalah obat penawar, pengental darah untuk semua luka yang telah atau tiba-tiba ada. Namun keduanya, luka dan penawarnya, adalah sebuah proses yang terbuka; yang akan selalu berlomba membuka dan menutup kembali. Proses ini tidak akan ringan. Kadang, sobekan luka harus dikoyak lebar sebelum penawar dapat masuk dan mengobati dari dalam. Kadang luka menyembuh sendiri, kadang dibiarkan lupa. Banyak waktu, penawar ini hanya plasebo semata yang tidak andil menyembuhkan apa-apa. Banyak waktu kecut air asin bergantian menyamar menjadi penawar: malah menyobek luka lebih dalam dan perih. Banyak waktu lain kita malah tidak merelakan sakit untuk sedikit membuka luka agar sembuh.

Bagiku, komunikasi selalu akan menyakitkan. Ia adalah sebuah usaha bebal yang tidak pernah tahu akan berhasil seperti apa sampai akhirnya aku berani menoleh ke arah gurat lukaku lagi. Beberapa kali aku akan berhenti percaya dengan apapun yang ditawarkan obat ini, sampai nanti perih menjalar, dan aku akan tergopoh mengemis kepada siapapun. Beberapa kali, aku akan mengantungi banyak obat tanpa tahu luka mana yang sudah waktunya disembuhkan. Namun ada pula waktunya ia menusuk sakit yang tepat. Aku, kamu, tahu rasanya: manis akan datang dari dada, merayap laun-laun ke seluruh arah. Semua indra bergembira; tulang-tulang yang merangkaimu akan menyala. Ya, komunikasi adalah berbagi luka. Menyobek kulit bersama. Menanggalkan lapis demi lapis pakaian hingga kamu menyadari ketiadaan atas semua yang kamu rasa miliki, hingga yang tersisa hanya malu yang tumpah ruah. Jika, kemudian setelah aku dan kamu selesai menempelkan luka, dan menemukan penawar di dalam semburat darah dari denyut nadi masing-masing, kita dapat mengacuhkan (atau bahkan, menghirup dan menertawakan) malu satu sama lain, maka luka bisa dibayar.


Semua rasa mungkin teramplifikasi. Sakit mungkin selamanya, malu mungkin lebih perih dari penggal, manis mungkin tidak habis seumur hidup. Bagiku komunikasi adalah harapan terus menerus, juluran tangan untuk mengisap saripati serta konfirmasi rasa atas yang sebelumnya terasa tidak mungkin terkatakan (dan tentu tidak akan pernah selesai terkatakan). Bagimu dan bagi mereka, aku belum sepenuhnya tahu.