February 17, 2011

reblogging

di pesta taman malam itu, semua berdansa, gema denting kristal anggur bersulang-sulang mengubur musik, pakaian-pakaian berkanji mengilap memantulkan bunga api di udara

aku tersenyum dan sesekali membalas kalimat orang yang tak kukenal,
melambai pada penari,
menampik ajakan dansa,
menangkapnya pada sudut mataku: ia menatap sedih bulir-bulir mahkota api yang jatuh

hampir kusapa kalau saja ia tidak sedang sibuk dengannya, entah bicara bisnis atau apa

aku tatapnya, lalu tak lama ia tatapku
senyumnya, “aku terlalu mengenalmu,” begitu pula aku
ia palingkan mata, kemudian kembali
senyumnya tak bisa lagi kubaca

senyumnya, tenang

kami terlalu berjarak untuk bisa bicara, lagipula kemudian ia lalu bersamanya
mataku mengikuti mereka pergi memunggungi menuju sisi bukit taman yang sepi

aku jadi sedih, tapi tidak muram

aku tahu hanya tahu akan lama sebelum bisa bertemu lagi
tak pernah kubilang tapi aku tahu ia tahu ia milikku yang terbaik—
payung, sepatu bot-ku kala hujan

pijakanku

bunga api terakhir pulang ke tanah diiringi tepukan tangan hangat para pedansa yang mabuk akan cinta mereka pada malam ini

No comments: