May 5, 2011

May 4, 2011

Remember that Mediterranean beaches? The green sands of salty seaweeds- that humble and warm nakedness in people. Kids embrace all longing for hundred years of stories.
And all the nearly unending paved roads of names. Those kind bearded men of harmonicas and accordions. The endless beer toast. Streets may cold in time, but everyone's strong enough to wait.
Oh, that small brick church of lanterns.
You remember those murmuring French cafés. People learned themselves joy in books and silent observations.

I barely know anything about the gypsies.

April 16, 2011















A warm sprawl. Entah sunyi berarti bisikan bossa dengan lirik Jawa dari radio berantena bengkok, teh tawar yang selalu gratis; entah berarti kayu-kayu reyot (yang seperti disembunyikan dari hingar-bingar kebaruan) dan asbak yang tidak pernah bersih, atau terpal bocor di atas temaram lampu yang cukup lima watt saja. Hangat, saya jadi tidak perlu marah kalau susu jahe terlambat disajikan; tidak marah kalau teteh sedikit terdistraksi sinetron di televisi dapur. Suwun, cak- semuanya bisa menunggu.
Rasanya ingin bayar lebih.

April 11, 2011

beauty;
if it cannot lie only within bright, pale faces of men, is it as unreachable as yellow and white stars and veiled clouds? does it, to men, always imply pains- tearing tattoos and godly scars? is it complex? is it a mere heaven only men can falsely depict? could such innuendo be burdened? do we own it? do You?
adik
Merahnya mungkin terang di tahun kalian saja, tapi tidak apa-apa. Tentu kami tidak berniat membakar tangan kalian. Hanya - selagi setapaknya belum menyempit: this will be your most heartbreaking but warmest sojourn.

April 5, 2011

a mere wish
to perceive all the sound in the world and still always be able to pull back abstraction

April 1, 2011




#euphoric #firstroll

March 16, 2011

#2: being nothing
people, they long to get rid of themselves sometimes

February 26, 2011

#1: bungee jumping
hari, jam, menit, detik ini tanpa ada ekspektasi

February 17, 2011

reblogging

di pesta taman malam itu, semua berdansa, gema denting kristal anggur bersulang-sulang mengubur musik, pakaian-pakaian berkanji mengilap memantulkan bunga api di udara

aku tersenyum dan sesekali membalas kalimat orang yang tak kukenal,
melambai pada penari,
menampik ajakan dansa,
menangkapnya pada sudut mataku: ia menatap sedih bulir-bulir mahkota api yang jatuh

hampir kusapa kalau saja ia tidak sedang sibuk dengannya, entah bicara bisnis atau apa

aku tatapnya, lalu tak lama ia tatapku
senyumnya, “aku terlalu mengenalmu,” begitu pula aku
ia palingkan mata, kemudian kembali
senyumnya tak bisa lagi kubaca

senyumnya, tenang

kami terlalu berjarak untuk bisa bicara, lagipula kemudian ia lalu bersamanya
mataku mengikuti mereka pergi memunggungi menuju sisi bukit taman yang sepi

aku jadi sedih, tapi tidak muram

aku tahu hanya tahu akan lama sebelum bisa bertemu lagi
tak pernah kubilang tapi aku tahu ia tahu ia milikku yang terbaik—
payung, sepatu bot-ku kala hujan

pijakanku

bunga api terakhir pulang ke tanah diiringi tepukan tangan hangat para pedansa yang mabuk akan cinta mereka pada malam ini