April 15, 2010
it was my exact nineteenth, or, well, i can't remember clear, twentieth might also... i was in this room for a so-called meeting with my colleagues. i can't recall anything important from the chat, sorry. anyway... i was kind of losing attention and even distracted to some sneaking sound outside. who wouldn't anyway. by now when i try hard recalling it clearly, i remember hearing loud giggles too. then in a second rush i remember a pack of people bragged in with some paper trumpets and cupcakes. ah, they sang, too, i think... anyway they circled the room along with the previously-chit-chatted-colleagues. i was kinda in the mood for doodling back then; i think i was drawing dolphins. they were getting close, i remember, and well, this may be embarrassing for you (i don't remember being embarrassed by this, though) as they collected and sang happy birthday to you to an unknown colleagues sitting two rows behind me.
March 5, 2010
January 27, 2010
December 30, 2009
November 29, 2009
01.11.48
keping recehan saya jatuh. seorang tua yang menenteng helm membantu memungutkan dari samping, namun saya malah sibuk menderu pacu setelahnya karena barisan di belakang juga sibuk melempar klaksonnya. saya tidak pula sempat tersenyum, padahal di antara sumpek ruangan parkir itu ia masih berbaik hati. apa refleks saya pada sosial telah berangkat dingin dan keji tanpa sadar? semoga kota ini punya lebih banyak tua sepertinya daripada saya-saya ini.
beberapa keping kembali terjatuh.
01.18.21
saya mengejar sebuah garis terang membubung dari tanah, naik turun memotong remang. mungkin pertanda sebuah perayaan? di samping mereka seorang anak tertidur dengan ayahnya mengipasi di atas dipan tua, di depan mereka sebuah sungai menangis karena kotanya lupa padanya.
saya memutar arah. cahaya sorot yang mengarung langit kota itu telah melihat semuanya, ia ikut meringis di atas denting-denting gelas pesta yang ramai.
semua polusi cahaya yang mahal itu mencekik langit kota saya jadi ungu.
01.38.58
berbelok kemudian di bawah rengkuh pepohonan. melewati pelataran sirkus kota yang esok pagi akan terjejal kepentingan-kepentingan luar biasa banyaknya. tertabur kepingan daun kuning, wajarkah ibu alam ini merontok di musim yang basah? apa mereka telah berangkat lelah dengan keapatisan anak-anaknya? mungkin mereka meraung-raung di sana, jangan belah aku, jangan kotori nafasku.
anak-anakmu hanya sedang lupa kau ibu mereka..
01.44.01
delapan puluh kilometer per jam, di sela gurat-gurat bopeng jalan yang makin membahayakan sebuah kelontong modern yang mencoba menghangatkan namun beku, berdiri. melewati bayangan rak-rak makanan kaleng dan bungkusan yang identik yang tidak mengenyangkan hati. semua lampu, tembok, ubin pucat memangkas ramah-tamah dalam pertukaran kebutuhan yang dulu hangat, yang saya kira akan selalu kuat mengakar di hati kota saya.
ah, bangunan itu sendiri kesepian. dingin.
01.52.11
memasuki portal, deretan palem bernyanyi. seorang pedagang menutup lapaknya, mencuci peralatannya di ember yang bocor, menggulung terpal birunya. puaskah ia akan hari ini? di antara jutaan kendaraan mahal yang melintasi sudut matanya, di antara ratusan jam ia menunggui lapaknya, banggakah ia dengan perannya di akrobat akbar urban ini?
bahkan kemudian, dekat di sampingnya masih ramai terlihat sebuah jamuan angkuh.
02.04.28
deru saya melonggar, semuanya timpang: gelap, sepi, tapi jauh lebih hangat daripada hingar-bingar benderang kota paling indah. semua sudut di sini fasih bercerita, tentang saya, tentang semua milik dan pemilik saya. semuanya merangkul jujur.
beberapa ngengat menjajali cahaya.
sedikit berbisik, assalamualaikum. hening..
keping recehan saya jatuh. seorang tua yang menenteng helm membantu memungutkan dari samping, namun saya malah sibuk menderu pacu setelahnya karena barisan di belakang juga sibuk melempar klaksonnya. saya tidak pula sempat tersenyum, padahal di antara sumpek ruangan parkir itu ia masih berbaik hati. apa refleks saya pada sosial telah berangkat dingin dan keji tanpa sadar? semoga kota ini punya lebih banyak tua sepertinya daripada saya-saya ini.
beberapa keping kembali terjatuh.
01.18.21
saya mengejar sebuah garis terang membubung dari tanah, naik turun memotong remang. mungkin pertanda sebuah perayaan? di samping mereka seorang anak tertidur dengan ayahnya mengipasi di atas dipan tua, di depan mereka sebuah sungai menangis karena kotanya lupa padanya.
saya memutar arah. cahaya sorot yang mengarung langit kota itu telah melihat semuanya, ia ikut meringis di atas denting-denting gelas pesta yang ramai.
semua polusi cahaya yang mahal itu mencekik langit kota saya jadi ungu.
01.38.58
berbelok kemudian di bawah rengkuh pepohonan. melewati pelataran sirkus kota yang esok pagi akan terjejal kepentingan-kepentingan luar biasa banyaknya. tertabur kepingan daun kuning, wajarkah ibu alam ini merontok di musim yang basah? apa mereka telah berangkat lelah dengan keapatisan anak-anaknya? mungkin mereka meraung-raung di sana, jangan belah aku, jangan kotori nafasku.
anak-anakmu hanya sedang lupa kau ibu mereka..
01.44.01
delapan puluh kilometer per jam, di sela gurat-gurat bopeng jalan yang makin membahayakan sebuah kelontong modern yang mencoba menghangatkan namun beku, berdiri. melewati bayangan rak-rak makanan kaleng dan bungkusan yang identik yang tidak mengenyangkan hati. semua lampu, tembok, ubin pucat memangkas ramah-tamah dalam pertukaran kebutuhan yang dulu hangat, yang saya kira akan selalu kuat mengakar di hati kota saya.
ah, bangunan itu sendiri kesepian. dingin.
01.52.11
memasuki portal, deretan palem bernyanyi. seorang pedagang menutup lapaknya, mencuci peralatannya di ember yang bocor, menggulung terpal birunya. puaskah ia akan hari ini? di antara jutaan kendaraan mahal yang melintasi sudut matanya, di antara ratusan jam ia menunggui lapaknya, banggakah ia dengan perannya di akrobat akbar urban ini?
bahkan kemudian, dekat di sampingnya masih ramai terlihat sebuah jamuan angkuh.
02.04.28
deru saya melonggar, semuanya timpang: gelap, sepi, tapi jauh lebih hangat daripada hingar-bingar benderang kota paling indah. semua sudut di sini fasih bercerita, tentang saya, tentang semua milik dan pemilik saya. semuanya merangkul jujur.
beberapa ngengat menjajali cahaya.
sedikit berbisik, assalamualaikum. hening..
November 15, 2009
bayangkan, hanya bayangkan. dini hari yang menggigil sendu, anda duduk dan suara berdesit terdengar perlahan. sedikit melirik jendela yang dari tadi terbuka dan di luar, semua bergerak mundur. mundur, mundur. terus hingga makin cepat. anda sadar kemudian anda sedang melaju. entah otak anda, mata anda, kamar anda, rumah anda, mimpi anda, atau dimensi anda; tapi anda melaju. anda senang. anda diam di jendela, pemandangan terus mundur hingga anda pangling. anda tidak tahu tempat-tempat ini sebelumnya. tiang listrik yang kesepian... rumah-rumah yang saling bersahabat... langit hitam yang membungkus, mengharukan... teriakan kereta api bobrok dua gerbong, jess, jess bunyinya dan anda ikuti iramanya. lama. anda tersenyum.
jess, jess.
jess, jess.
hilang. sepi lagi. kemudian gantinya muncul hangat. hangat yang menusuk di kuduk namun merangkul akrab. ini bunyi derai seperti laut. setelah itu semua di luar perlahan melambat, lambat...
anda keluar menginjak pasir yang sama banyaknya seperti bintang-bintang. anda berdiri lama dan laut mendera kaki anda. hangat. anda menutup mata. leher anda disapu gigil tapi anda tersenyum. hangat. jess, jess. suara ombak.
selesai.
jess, jess.
jess, jess.
hilang. sepi lagi. kemudian gantinya muncul hangat. hangat yang menusuk di kuduk namun merangkul akrab. ini bunyi derai seperti laut. setelah itu semua di luar perlahan melambat, lambat...
anda keluar menginjak pasir yang sama banyaknya seperti bintang-bintang. anda berdiri lama dan laut mendera kaki anda. hangat. anda menutup mata. leher anda disapu gigil tapi anda tersenyum. hangat. jess, jess. suara ombak.
selesai.
November 14, 2009
November 5, 2009
October 28, 2009
October 10, 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)
